BOT MUSCLE, WHY NOT ?


Siapa yang tak ingin memiliki tubuh atletis dengan perut sispex. Memiliki tubuh atletis tentu menjadi nilai tambah tersendiri karena selain terlihat lebih macho juga dapat menarik perhatian lawan jenis atau pun sesama jenis.  Membentuk tubuh ideal nampaknya  tak hanya bagi pria heteroseksual  tapi juga bagi mereka yang memiliki orientasi seksual sesama jenis.

Memiliki tubuh atletis bagi seorang gay adalah sebuah keharusan jika ingin tetap menang dalam persangingan menjadi escort atau  pun untuk mendapatkan teman satu malam ( fun). Mereka yang berbadan atletis memang tak ubahnya seperti gula yang dikerumuni oleh semut. Terlebih lagi jika dia adalah gay top, maka dapat dipastikan akan laris manis dan para boti manja yang haus akan belaian akan tergila  - gila.

Itu jika casenya ia adalah seorang top, tapi apa jadinya jika yang berbadan atletis ternyata juga bot kayak kamu ( drop say wkwk). Pasti tentu kamu yang berharap dibelai, dimanja oleh dirinya malah justru akan drop karena ternyata sama – sama bot. Tidak sedikit memang mereka yang berbadan ateltis yang kita kira adalah top manly ternayata juga bot ( bahkan terkadang ngondek habis wkwk).

Lantas, sebenarnya mengapa belakangan ini terjadi fenomena mereka gay yang berbadan muscle akan tetapi lebih memilih menjadi bot. Untuk itulah mari kita bahas saja permasalahan ini agar kamu tidak drop lagi ya say saat ketemu gay muscle eh tahunya bot juga wkwkw.




           A .   Presepsi
Pada dasarnya apa yang terjadi belakangan ini tentang gay muscle akan tetapi bot bukanlah hal yang aneh, hanya saja ini terjadi karena masalah presepsi. Acap kali kita sebagai gay menganggap bahwa untuk menjadi top itu harus manly, muscle, big di*k, sedangkan untuk menjadi bot harus cute, manly, putih atau pun kebalikan dari seorang top.

Saat presepsi ini sudah melakat dalam pikiran kita semua maka hal tersebut akan semakin sulit dikeluarkan. Hal hasil apa yang selama ini tertanam dalam pikiran kita jika tidak sesuai kenyataan maka kita sering menganggapnya tidak lazim. Salah satunya adalah fenomenanya Bot Muscle. Presepsi kita sering kali menggambarkan bahwa gay yang memiliki badan muscle harusnya menjadi top bukan malahanya menjadi bot kayak kamu wkwkw.

Namun, bak peri yang kecebur got apa mau dikata, role seks itu kan tidak ada kaitannya dengan bentuk badan. Sekalipun badannya gede bangat  tapi jika naluri dalam dirinya adalah seorang bot ya susah juga sih say. So, fenomena ini lumrah sekali hanya presepsi kita sajalah yang terkadang terlalu kaku. Sehingga apa yang sudah ada dalam pikiran kita harus sesuai dengan kenyataan yang ada. Jadi, mulai sekarang jangan terlalu berharap lebih ya say wkwkwk.


B.   Yes Buat Top, No Buat Bot
Dibalik pro dan kontra kehadiran Bot muscle tentu ada pihak yang merasa diuntungkan dalam hal ini adalah gay top, why?. Bagi gay top fun dengan bot muscle mungkin jauh lebih nikmat dibandingkan dengan bot slim or chubby. Sehingga munculnya banyak bot muscle tentu menjadi sebuah keutungan bagi para top menemukan pasangan atau sekedar teman fun yang memiliki tubuh ideal seperti dirinya

Semakin banyak bot muscle tentu akan membuat top semakin mudah menemukan lawan main yang ideal, namun disatu sisi lain ini menjadi pesangin bagi para bot. Bagi para bot yang tidak memiliki badan atletis tentu kehadiran bot muscle menjadi pesaing tersendiri.  Mereka bot slim dan chubby mungkin akan semakin kesulitan menemukan lawan fun atau pacar, karena para top lebih tertarik dengan bot muscle yang lebih manly (padahal belum tentu, siapa tahu dia lebih ngondek wkwkw).




          C.    Bentuk Badan Tidak Ada Hubungannya dengan Role
Banyak sekali pertanyaan terkait fenomena ini sebenarnya, salah satunya adalah apa yang membuat mereka berbeadan atletis memilih menjadi bot. Sebelum saya menjelaskan hal tersebut, kita harus samakan presepsi dulu, Pertama, bentuk badan seseorang tidak ada kaitannya dengan role seks dalam hal ini adalah top or bot. Sekalipun badannya muscle bangat dan manly habis, ya kalau nalurinya lebih ke bot ya apa mau dikata. Role seks itu kan hanya posisi saat kita bercinta saja. Artinya ketika ia memilih menjadi top berarti berperan sebagai (pria) sedangan bot berperan sebagai ( wanita).

Nah, acap kali peran sebagai wanita inilah yang salah diartikan, bukan berarti berperan sebagai wanita ya harus harus memiliki naluri sebagai wanita dan mengikuti gaya kewanita wanitaan. Berperan sebagai wanita itu artinya ia seakan akan adalah posisinya sebagai wanita dalam berhubungan badan. Terlepas dari itu ia haruslah terlihat seperti laku – laki pada umumnya. Jadi, sebenarnya bot muscle, manly itu ya memang sewajarnya. Hanya saja karena mungkin disini lebih banyak yang ngondek sehingga menemukan bot muscle dan manly menjadi hal yang tidak lazim.

Jadi, tidak ada kaitannya secara langsung antara bentuk badan seseorang terhadap role seksnya ya guys. Gak ada yang salah kok, hanya presepsi kita saja yang belum benar pada jalurnya.

So….

Adanya fenomena bot muscle pada dasarnya adalah hal yang lazim sekali, hanya saja karena hal terebut berbenturan dengan presepsi kita selama ini menjadi tidak lazim. Kita acap kali menanam sebuah presepsi yang pada dasarnya belum sepenuhnya benar dan acap kali presepsi yang sudah tertanam itu sulit sekali rasanya untuk keluar dari pikiran kita.

Bot muscle itu bukanlah sesuatu hal yang aneh, itu wajar sekali Kita sendirilah yang menanggap itu aneh dan terlihat tak lazim. So, mulai saat ini sudah sewajarnya kita memiliki pemikiran lebih terbuka dan tidak mengkotak – kotakan sesuatu hal. Seperti top harus muscle dan manly, kalau muscle tapi bukan top itu aneh.
Janganlah memiliki pemikiran sempit seperti itu atau kita hanya akan hidup dalam dunia yang berbeda.

0 comments:

Post a Comment